Cikuray, gunung yang pengen banget gue daki, setelah melihat kegagahannya waktu mendaki gunung papandayan. Kenapa tidak? Kerucutnya itu bro! Lancip banget! Gagah dah pokoknya. Akhirnya gue putuskan untuk menjadikan cikuray sebagai destinasi pendakian kedua gue.
-------------------------------------------------------__-------------------------------------------------------------
Beberapa kali membuat rencana pendakian cikuray, dan berakhir dengan ketidakpastian. Always. Alesannya beragam: Duitnya kepake lah, gak ada duit lah, etc. Parah banget emang. Kayak di PHP-in gebetan.
Untung gue selalu sabar ngadepin mereka. Kalo kagak, mungkin gue bakal mendaki sendiri. Emang berani? Enggak. :) *digebukin rame-rame*
Untung gue selalu sabar ngadepin mereka. Kalo kagak, mungkin gue bakal mendaki sendiri. Emang berani? Enggak. :) *digebukin rame-rame*
And finally, berangkat lah geng satria bajai hitam untuk memberantas kejahatan. Lah.
Berangkat lah gue bersama lima orang cowo kece (bukan boyband). Mereka adalah Ully (bedul -red), dia pernah mendaki gunung cikuray sebelumnya. Jadi, dia dinobatkan sebagai ranger sekaligus ESTELER (baca: eh sekali nanjak langsung teler). Hampir pingsan. Tapi gak jadi.
Lalu ada Piki, for the first time dia mendaki. ESTELER juga.
Pikang. Kalo doi nih anak gunung banget. Tapi sayang, kurangkasih sayang tinggi. Pengalaman mendakinya lumayan lah.
Pikang. Kalo doi nih anak gunung banget. Tapi sayang, kurang
Revy (acong), kalo bocah yang satu ini fisiknya kuat banget, gue cap jempolin dah buat ni anak, pernah mendaki bareng gue juga di gunung papandayan.
Terus yang terakhir nih gue lupa nama aslinya. Gue sih biasa manggil doi "Kakek". Lah lagian mukanya tua sih, tampangnya juga gitu, kayak gak punya gairah idup. Tapi, doi ini setiakawan banget.
Terus yang terakhir nih gue lupa nama aslinya. Gue sih biasa manggil doi "Kakek". Lah lagian mukanya tua sih, tampangnya juga gitu, kayak gak punya gairah idup. Tapi, doi ini setiakawan banget.
***
Untuk sampai di pos pemancar, kami lebih memilih untuk menggunakan jasa mobil pick up dari terminal guntur dengan tarif 45rb/orang.
Dengan begitu, gak usah capek-capek naik turuncantik ganti angkutan umum lagi yekan. Cukup dengan bayar 45rb, tinggal duduk manis dan diantar oleh pak supir yang baik hati menuju pos pemancar.
Dengan begitu, gak usah capek-capek naik turun
*skip*
"Asyuuu..le!! Pantat gue sakit, Kimochiii!!!" Teriak gue ketika my bottom disundul pagar belakang mobil.
Jalan menuju pos pemancar itu sangat sangat tidak bersahabat. Banyak batu dan lubang, ditambah jalanan yang hanya bisa dilewati oleh 1 mobil dan berkelok-kelok terus menanjak. Gue jamin, ente-ente gak bakal bisa duduk dengan tenang bila melewati jalur ini. Trust me!
Pendakian baru dimulai. Diawali dengan melewati kebun teh yang cukup luas.
Emang bener ya orang-orang bilang, cikuray ini gagah banget. Ini baru awal loh, tapi udah dipaksa nanjak. Ajib.
Cikuray ini minus sumber air. Jadi, setiap orang harus membawa minimal 2 botol air ukuran 1,5 liter. Itu juga harus digunakan sehemat mungkin.
Kalo takut kurang bawa 2 botol, boleh lebih kok. Segalon juga gapapa. Itu juga kalo udah gak sayang nyawa sih.
FYI: 95% trek cikuray ini adalah tanjakan. Jadi, jangan berharap bakal bermanja-manja dengan bonus ya. Bonus is just a dream. HA HA HA HA. *ketawa jahat*
**
Kalo takut kurang bawa 2 botol, boleh lebih kok. Segalon juga gapapa. Itu juga kalo udah gak sayang nyawa sih.
FYI: 95% trek cikuray ini adalah tanjakan. Jadi, jangan berharap bakal bermanja-manja dengan bonus ya. Bonus is just a dream. HA HA HA HA. *ketawa jahat*
**
"Ya gila! Tanjakan wakwau! Gak ada nama yang lebih bagus ngapa." Celetuk gue dengan sumringah.
"Yah jangan sombong lo, Cok. Kena batunye baru nyaho."
Dari pos pemancar hingga pos 7, gak ada tuh yang namanya bonus. Ada sih, tapi itu dikit. Serius. *nunjukin ujung kuku*
Seperti yang udah gue bilang di awal, pasukan ESTELER tiba-tiba sakit, mukanya pucet. Yaela, belom juga pos 2. Tapi, gue kira mereka sakit, gak taunya cuma butuh sruput. Kan selin.
***
Pendakian menuju pos 2, 3, 4, dan seterusnya tuh rasanya lamaaaaaaaa bangettttt. Ditambah dengan trek yang terus menanjak tanpa ampun. Rasanya tuh sakit. Kayak liat mantan jadi makin cantik dibanding waktu masih jadi pacar. Lah kok galau. #gendong aku bang
Mungkin gambar dibawah ini bisa menjelaskannya. Check it out!
Kami mendaki dengan metode 10:1, yaitu 10 menit jalan, dan 1 menit istirahat. Dengan begitu, nafas dan stamina bisa terkontrol dengan baik. Kecuali hati.
***
Sampai di pos 3, kami memutuskan untuk istirahat sambil guling-gulingan. #lah
Kami istirahat untuk makan siang. Tanpa banyak cincong, menu spesial pun langsung disajikan. Yaelah. Cuma indomie padahal. Tapi seriusan, di gunung tuh makanan apa aja terasa lebih nikmat. Ya walaupun cuma indomie pake nasi sik.
***
"Bang, puncak berapa lama lagi?"
"Kira-kira 1 jam lagi lah"
Setelah denger kalimat itu dari orang yang baru turun dari puncak, membuat semangat gue kembali lagi.
Gue, Acong, dan Ully langsung mempercepat langkah menuju pos berikutnya, meninggalkan Pikang, Kakek, dan Piky yang sedang istirahat.
Di tengah perjalanan, gue mulai curiga kalo pendaki yang bilang puncak 1 jam lagi itu berdusta. Karena faktanya, 2 jam gue nanjak kok belom ada tanda-tanda puncak yak. Oh, bunuh aku di rawa-rawa, bang!
Gue, karena gak sabaran buat sampe puncak dan langsung ngecamp, selalu mengeluh.
"Woy Bedul, masih lama gak puncak?" Teriak gue sambil ngos-ngosan.
Setiap gue tanya dengan pertanyaan yang sama, Ully selalu jawab gini.
"Selo aje, dikit lagi kok"
#SabarIniUjian
#SabarIniUjian
***
Telapak kaki, dengkul dan pundak gue udah nyeri semua, karena bawa carrier yang full of goods dan daypack si Piki. Membuat penderitaan gue semakin menjadi-jadi. Udah gitu, ibarat tamu yang tak diundang, hujan datang menemani, membawa sejuta kenangan tentangnya. #Eh gak deng
Hujan turun dengan gerimis yang agak deras. Kami melipir dibawah pohon untukbersandar berteduh menunggu hujan reda.
Hujan turun dengan gerimis yang agak deras. Kami melipir dibawah pohon untuk
Gue coba buat menikmati penderitaan ini, sambil sesekali nungging karena ini pundak pegel banget. Dan harap-harap cemas buat cepet-cepet bangun tenda.
"Cong, tungguin!" Teriak gue
"Iye Cok, makanye cepetan"
"Enak lu ngomong! Coba nih lo rasain bawa daypack ama carrier sekaligus!" Ngos-ngosan sambil nungging.
"Hehe. Yaudeh nikmatin aje"
"(nyinyir gemash dalem ati)"
***
Akhirnya, setelah melewati siksaan yang bertubi-tubi, sampe juga di pos 7. Pos terakhir menuju puncak. Tempat yang pas juga buat bangun tenda. Karena disini area-nya tertutup oleh pohon-pohon besar, sehingga bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Gak deng. Hehe. Maksudnya bisa mencegah dari terpaan angin. Yaelah terpaan. *terpa aku bang*
Dengan tenaga yang tersisa, kami membangun tenda untuk nge-camp, sambil menunggu mereka yang tertinggal dibawah.
Malam itu kami hanya ditemani oleh hujan dan suara gemuruh dilangit. Tidak ada hal spesial yang bisa dilakukan. Setelah makan malam, kami langsung tidur untuk mengejar summit esok pagi.
Tapi tapi tapi, penderitaan belum berakhir. Gue masih harus berjuang melawan hawa dingin yang menusuk tulang, tenda yang merembes, dan you know.. Sleeping bag gue basah!!! Ditambah suara merintih Piki sepanjang malam.
"ADDUUHHHH!!! DINGIINNNN!!" Gitu aje terus.
Duh gusti, untung aing orangnya penyabar. Kalo enggak, gak bakal mau gue diajak tukeran posisi sama Acong yang tadinya tidur di pojok pake sleeping bag basah.
Giliran gue kedinginan tengah malem dan minta tukeran posisi lagi, dengan polosnya dia bilang gini
"Ah dingin, Cok! Gamau gue tidur disitu."
Gue cuma bisa sabar sambil mengelus dada Jupe. Kadang temen emang suka gitu.
***
Pagi-pagi buta gue bangun karena kedinginan, jam 4. Tanpa banyak basa-basi, langsung bergegas membangunkan mereka yang lagi enak-enaknya bobo chantique diatas penderitaan gue. #Banguninnya gue pecut
Cukup 5 menit, puncak langsung menyambut kami.
Masih gelap, yaiyalah. Baru juga jam berapa. Kerajinan banget yekan muncak jam segini.
| Ngantuk, mas? |
| Ustad kuburan :D |
Diatas puncak banyak para pendaki yang membangun tenda. Menurut gue itu cukup mengganggu. Karena tali pasak dari tenda mereka sesekali membuat kaki gue tersandung.
"Mas, ada bekas iler tuh bibirnya" tiba-tiba seseorang nyeletuk tanpa gue tau ditujukan buat siapa.
Tapi gue mulai sadar, sisi bibir gue terasa gak enak, kayak ada yang krispi-krispi gitu. Dan untuk menghilangkan rasa penasaran itu, akhirnya gue menggunakan kaos yang gue pakai untuk menyeka sisi bibir.
"Madeparkur!! Kerak iler semua!" *sambil pamer ke orang-orang* *lalu digelindingin dari puncak*
***
And then, parampampampam.. Saat yang ditunggu pun telah tiba
*Jrengjengjengjenggggg*
Setelah puas foto-foto kece, salto, lompat-lompatan, mandi kembang, meni pedi. Kami memutuskan untuk berkemas dan pulang ke alam kubur. #lah
FYI : Waktu perjalanan turun, di tanjakan wakwau, gue jatoh 3 kali dan nge-gelosor di tanah. Mungkin gue kualat kali yak. Fix! Gamau sumringah lagi. Kapok.
Ternyata, penderitaan belum berakhir juga. Kami kehabisan air dan bahan makanan. Dan oleh karena itu, mau gak mau, suka gak suka, gue makanin tuh mentega yang masih ada. Lumayan buat nambah tenaga. Selain itu, kami juga terjebak macet di perjalanan pulang. Ketika sampai di Jakarta, kami malah terlantar dikarenakan minimnya angkutan tengah malam. Fiuh!
Cikuray, you're the best! Terimakasih buat pengalamannya. Alafyu!
Jangan lupa :
Take nothing but pictures,
leave nothing but footprints,
kill nothing but time.
Happy mountaineering!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar